penemuan penisilin
saat kecerobohan alexander fleming menyelamatkan jutaan nyawa
Pernahkah kita meninggalkan piring kotor di wastafel sebelum pergi liburan panjang? Saat pulang, kita biasanya disambut oleh pemandangan menjijikkan. Jamur berwarna-warni tumbuh subur bak hutan miniatur di atas sisa makanan tersebut. Reaksi normal kita tentu saja segera membuangnya sambil menahan napas. Namun, mari kita bayangkan sejenak. Bagaimana jika satu piring kotor yang lupa dicuci itu, ternyata menyimpan rahasia untuk menyelamatkan ratusan juta nyawa manusia?
Terdengar seperti fiksi ilmiah, bukan? Sayangnya, ini adalah fakta sejarah.
Dulu, dunia adalah tempat yang jauh lebih menakutkan dari sekarang. Sebelum abad ke-20, hal remeh seperti tergores duri mawar, lecet karena sepatu baru, atau cabut gigi bisa menjadi vonis mati. Bakteri adalah pembunuh berantai yang tidak terlihat. Kita tidak punya senjata apa pun untuk melawannya. Hingga akhirnya, sebuah kecerobohan luar biasa mengubah jalan sejarah manusia untuk selamanya.
Mari kita kembali ke bulan September tahun 1928, di Rumah Sakit St. Mary, London. Teman-teman, perkenalkan pahlawan kita: Alexander Fleming. Beliau adalah seorang peneliti bakteriologi yang brilian, namun punya satu kelemahan fatal. Fleming adalah orang yang sangat berantakan. Mejanya selalu penuh dengan tabung reaksi kotor, tumpukan kertas, dan cawan petri yang tidak terurus.
Suatu hari, Fleming memutuskan untuk pergi berlibur bersama keluarganya. Seperti biasa, ia meninggalkan laboratoriumnya dalam keadaan kacau balau. Ia lupa membersihkan cawan-cawan petri yang berisi bakteri mematikan bernama Staphylococcus. Bakteri ini adalah biang kerok penyebab berbagai penyakit mengerikan, mulai dari bisul bernanah hingga infeksi darah yang mematikan.
Selama berminggu-minggu, cawan-cawan itu tergeletak begitu saja di meja kerjanya. Suhu udara London saat itu sedang tidak menentu. Di dalam ruangan yang sepi itu, sebuah proses biologis yang sunyi namun dramatis sedang bersiap untuk terjadi. Ada sesuatu yang tak diundang terbang masuk melalui jendela laboratoriumnya. Sesuatu yang akan berhadapan langsung dengan bakteri pembunuh tersebut.
Liburan usai. Fleming kembali ke laboratoriumnya dan menghela napas panjang melihat kekacauan di mejanya. Ia mulai melakukan rutinitas yang membosankan: membersihkan cawan petri satu per satu dan membuangnya ke dalam larutan desinfektan.
Ia mengambil satu cawan petri berisi bakteri Staphylococcus. Sesuai dugaan, cawan itu sudah terkontaminasi. Ada gumpalan jamur aneh berwarna biru kehijauan tumbuh di tengah-tengahnya. Eksperimen ini jelas gagal total. Normalnya, seorang ilmuwan akan langsung membuang cawan "rusak" tersebut tanpa pikir panjang.
Tangan Fleming sudah berada tepat di atas tong sampah. Namun, tiba-tiba gerakannya terhenti. Matanya menangkap sebuah kejanggalan yang sangat aneh.
Jika teman-teman melihat roti yang berjamur, jamur itu biasanya akan menutupi seluruh permukaannya, bukan? Tapi di cawan petri ini, ada sesuatu yang tidak masuk akal. Di sekeliling gumpalan jamur tersebut, terdapat sebuah "zona mati". Bakteri Staphylococcus yang ada di dekat jamur itu tidak hanya berhenti tumbuh, mereka tampak meleleh dan hancur.
Mengapa bakteri mematikan itu tiba-tiba meletus bagai balon yang ditusuk jarum tepat di sekitar sang jamur? Apa sebenarnya yang sedang dilakukan jamur tak diundang ini?
Inilah momen penemuan yang paling epik dalam sejarah medis. Gumpalan jamur itu ternyata adalah Penicillium notatum.
Secara biologis, jamur dan bakteri adalah musuh bebuyutan di alam liar. Mereka berebut nutrisi yang sama untuk bertahan hidup. Ketika spora jamur Penicillium itu tak sengaja mendarat di cawan petri Fleming, ia sadar bahwa ia dikepung oleh bakteri mematikan. Sebagai bentuk pertahanan diri, sang jamur mengeluarkan semacam "jus" kimia yang sangat mematikan bagi bakteri, namun tidak berbahaya bagi manusia.
Fleming kemudian menamai "jus" pembunuh bakteri ini dengan nama penisilin.
Mekanismenya sungguh elegan. Penisilin bekerja dengan cara menyabotase dinding sel bakteri. Ia membuat dinding sel bakteri menjadi rapuh, sehingga saat bakteri mencoba membelah diri, mereka akan pecah dan mati. Jamur kecil ini baru saja memberikan umat manusia cetak biru untuk antibiotik pertama di dunia.
Tentu saja, Fleming tidak bisa memproduksi penisilin dalam jumlah massal sendirian. Butuh belasan tahun dan pemikiran kritis dari ilmuwan lain, seperti Howard Florey dan Ernst Chain, untuk mengubah "jus jamur" ini menjadi obat yang stabil. Namun, ketika obat ini akhirnya didistribusikan pada Perang Dunia II, angka kematian akibat infeksi luka turun drastis. Sebuah era baru bernama Era Antibiotik telah lahir, berawal dari satu cawan yang lupa dicuci.
Kisah Alexander Fleming sering kali diceritakan sebagai kisah tentang keberuntungan. Namun, jika kita telaah lebih dalam, ada pelajaran psikologis yang sangat indah di sini.
Louis Pasteur, seorang ilmuwan legendaris lainnya, pernah berkata: "Keberuntungan hanya berpihak pada pikiran yang bersiap."
Ya, Fleming memang ceroboh. Kegagalannya menjaga kebersihan lab adalah sebuah kesalahan mutlak. Namun, ketika dihadapkan pada sebuah anomali—sebuah kegagalan eksperimen—ia tidak mengabaikannya. Ia menggunakan observasi tajam dan pemikiran kritisnya. Ribuan orang mungkin pernah melihat roti berjamur, tapi hanya pikiran yang "bersiap" yang bisa melihat obat pembunuh bakteri di sana.
Teman-teman, dalam hidup ini, kita pasti sering berbuat salah. Kita sering membuat kekacauan, gagal mencapai target, atau mendapati rencana kita terkontaminasi oleh hal-hal tak terduga. Namun, kisah penisilin mengajarkan kita untuk tidak buru-buru membuang "kegagalan" kita ke tempat sampah.
Mungkin, jika kita mau berhenti sejenak, mengamati dengan empati, dan berpikir kritis terhadap kesalahan kita sendiri, kita akan menemukan hal yang berharga. Kita mungkin tidak akan menyelamatkan jutaan nyawa seperti Fleming, tetapi kita selalu punya kesempatan untuk menyelamatkan, atau setidaknya memperbaiki, hidup kita sendiri. Jadi, mari sesekali berdamai dengan ketidaksempurnaan kita, karena siapa tahu, di situlah letak keajaiban bersembunyi.